Prima File's

Kamis, 05 Desember 2013

Peralatan dan Sistem Penunjang Farmasi Industri



Peralatan yang digunakan dalam pembuatan obat memiliki rancang bangun dan konstruksi yang tepat, ukuran yang memadai serta ditempatkan dengan tepat, sehingga mutu yang dirancang bagi tiap produk obat terjadi secara seragam dari batch ke batch serta untuk memudahkan pembersihan dan peralatannya.
Peralatan untuk pembuatan obat hendaklah memiliki desain dan kontruksi yang tepat, ukuran yang memadai serta ditempatkan dan di kualifikasi dengan tepat, agar mutu obat  terjamin sesuai desain serta seragam dari bats ke bats dan untuk memudahkan pembersihan serta perawatan. Peralatan yang bersentuhan dengan bahan awal, produk antara atau produk jadi tidak boleh menimbulkan reaksi, adisi, absorpsi yang dapat mempengaruhi indentitas, mutu dan kemurnian. Penempatan alat disesuaikan dengan alur produksi, mempunyai jadwal preventive maintenance dan mempunyai system cleaning yang telah tervalidasi untuk mencegah kontaminasi silang. Peralatan satu sama lain ditempatkan pada jarak yang cukup untuk menghindari kesesakan serta memastikan tidak terjadi kekeliruan dan campu-baur produk. Peralatan dirawat sesuai jadwal untuk mencegah malfungsi atau pencemaran yang bisa mempengaruhi indentitas, mutu atau kemurnian dari produk.
Syarat-syarat peralatan yang ditentukan CPOB adalah sebagai berikut:
Desain dan konstruksi
  1. Peralatan yang digunakan tidak boleh bereaksi atau menimbulkan akibat bagi bahan yang diolah.
  2. Peralatan dapat dibersihkan dengan mudah baik bagian dalam maupun bagian luar serta peralatan tersebut tidak boleh menimbulkan akibat yang merugikan terhadap produk.
  3. Semua peralatan yang dipakai dalam pengolahan bahan kimia yang mudah terbakar, atau ditempatkan di daerah di mana digunakan bahan yang mudah terbakar, hendaklah dilengkapi dengan perlengkapan elektris yang kedap eksplosif serta dibumikan dengan sempurna.
  4. Peralatan yang digunakan untuk menimbang, mengukur, menguji dan mencatat hendaklah dikalibrasi menurut suatu program dan prosedur yang tepat.
Pemasangan dan penempatan
1.      Pemasangan dan penempatan peralatan diatur sedemikian rupa sehingga proses produksi dapat berjalan secara efektif dan efisien.
2.      Saluran air, uap, udara bertekanan atau hampa udara hendaklah dipasang sedemikian rupa sehingga mudah dicapai selama kegiatan berlangsung.
3.      Tiap peralatan utama hendaklah diberi nomor pengenal yang jelas.
4.      Semua pipa, tangki, selubung pipa uap atau pipa pendingin hendaklah diberi isolasi yang baik untuk mencegah kemungkinan terjadinya cacat dan memperkecil kehilangan energi.
5.      Sistem-sistem penunjang seperti sistem pemanas, ventilasi, pengatur suhu udara, air minum, kemurnian air, penyulingan air dan fasilitas yang lainnya hendaklah divalidasi untuk memastikan bahwa sistem-sistem tersebut senantiasa berfungsi sesuai dengan tujuan.
Pemeliharaan
1.      Peralatan dirawat menurut jadwal yang tepat agar tetap berfungsi dengan baik dan mencegah terjadinya pencemaran yang dapat merubah identitas, mutu atau kemurnian produk.
2.      Prosedur-prosedur tertulis untuk perawatan peralatan dibuat dan dipatuhi.
3.      Catatan mengenai pelaksanaan pemeliharaan dan pemakaian suatu peralatan utama dicatat dalam buku catatan harian. Catatan untuk peralatan yang digunakan khusus untuk satu produk saja dapat dimasukkan ke dalam catatan produksi batch produk tertentu.
Kualifikasi dan Validasi Mesin dan Peralatan Produksi
Validasi untuk mesin, peralatan produksi dan sarana penunjang disebut dengan kualifikasi. Jadi, kualifikasi adalah istilah yang digunakan untuk validasi mesin, peralatan produksi maupun sarana penunjang. Kualifikasi mesin, peralatan produksi dan sarana penunjang merupakan langkah pertama (first step) dalam pelaksanaan validasi di industri farmasi. Seluruh kegiatan validasi di industri farmasi diawali dengan pelaksanaan program kualifikasi ini. Validasi metode analisa, validasi proses produksi, validasi proses pengemasan, serta validasi pembersihan tidak bisa dilakukan tanpa melakukan kualifikasi mesin, peralatan produksi serta sarana penunjang terlebih dahulu.
Bagian kalibrasi dan validasi bertanggung jawab terhadap kalibrasi alat ukur (neraca timbang, termohigrometer, gelas ukur, dll), kualifikasi dan validasi. Kalibrasi dilakukan sesuai jadwal yang ditetapkan. Kalibrasi terhadap alat ukur yang dilakukan menggunakan kalibrator setiap tahun dikalibrasi oleh instansi atau kalibrasi nasional.

Kebersihan dan Sanitasi Peralatan
1.    Setelah  digunakan, peralatan hendaklah dibersihkan baik bagian luar maupun bagian dalam sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan, serata dijaga dan dsimpan dalam kondisi yang bersih. Tiap kali sebelum dipakai, kebersihannya diperiksa untuk memastikan bahwa semua produk atau bahan dari bets sebelumnya telah dihilangkan.
2.    Metode pembersihan dengan cara vakum atau cara basah lebih dianjurkan. Udara bertekanan dan sikat hendaklah digunakan dengan hati-hati dan sedapat mungkin dihindari karena menambah periko pencemaran produk.
3.    Pembersihan dan penyimpanan peralatan yang dapat dipindah-pindahkan dan penyimpanan bahan pembersih hendaklah dilaksanakan dalam ruangan yang terpisah dari ruangan pengelolaan.
4.    Prosedur tertulis yang cukup rinci untuk pembersihan dan sanitasi peralatan serta wadah yang digunakan dalam pembuatan obat hendaklah dibuat, divalidasi dan ditaati. Prosedur ini hendaklah dirancang agar pencemaran peralatan oleh agens pembersih atau sanitasi dapat dicegah. Prosedur ini setidaknya meliputi penanggung jawab pembersihan, jadwal, metode, peralatan dan bahan yang dipakai dalam pembersihan serta metode pembokaran dan perakitan kembali peralatan yang mungkin diperlukan untuk memastikan pembersihan yang benar terlaksana. Jika perlu, prosedur juga meliputi sterilisasi peralatan, penghilangan identitas bets sebelumnya serta perlindungan peralatan yang telah bersih terhadap pencemaran sebelum digunakan.
5.    Peralatan mengenai pelaksanaan pembersihan, sanitasi, sterilisasi dan inspeksi sebelum penggunaan peralatan hendaklah disimpan secara benar.
6.    Disinfektan dan deterjen hendaklah dipantau terhadap pencemaran mikroba, enceran disinfektan dan deterjen hendaklah disimpan dalam wadah yang sebelumnya telah dibersihkan dan hendaklah disimpan untuk jangka waktu terteuntu kecuali bila disterilkan.
Setiap ruang dan peralatan  yang akan di gunakan untuk proses produksi harus telah dibersihkan dan telah diperiksa kebersihannya. Peralatan yang digunakan harus dijaga sanitasi dan higienutasnya. Setiap selesai proses produksi satu jenis obat, peralatan harus dibersihkan sebelum diunakan untuk memproduksi obat lain. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kontaminasi dari produk sebelumnya.
Untuk menjaga sanitasi dan hygiene peralatan, setiap selesai memproduksi satu jenis obat peralatan harus selalu dibersihkan untuk mencegah terjadinya kontaminasi silang dengan produk selanjutnya yang akan dibuat. Prosedur pembersihan harus tervalidasi. Peralatan yang digunakan setelah produksi segera dibersihkan yatiu dengan cara menggunakan air kemudian didesinfeksi dengan anios EAS 1,5 – 2% dan alcohol 70 %. Bahan sanitasi yang digunakan tidak boleh mencemari peralatan. Sanitasi ruangan produksi dilakukan dengan menggunakan HEPA filter dan kemudian dilakukan fumigasi menggunakan anios 2R. Setiap proses sanitasi ruangan harus terdokumentasi dengan baik.

Sistem Penunjang

1.      Sistem Tata Udara
Salah satu faktor yang menentukan kualitas obat adalah kondisi lingkungan tempat di mana produk tersebut dibuat/diproduksi. Kondisi lingkungan yang kritis terhadap kualitas produk, antara lain adalah :
· Cahaya,
· Suhu,
· Kelembabab relatif (RH),
· Kontaminasi Mikroba, dan
· Kontaminasi partikel

Sebagai upaya untuk mengendalikan kondisi lingkungan tersebut, maka setiap industri farmasi diwajibkan untuk memiliki Sistem Tata Udara (Air Handling System/AHS). Seluruh regulatory code (WHO TRS 902/2002; WHO TRS 908/2003 dan PIC/S 2006) mensyaratkan Sistem Tata Udara (Air Handling System/AHS) harus dikendalikan dan dikualifikasi. AHS sering juga disebut dengan HVAC (Heating, Ventilating and Air Conditioning). Sistem Tata Udara tidak hanya mengontrol suhu ruangan (seperti halnya AC konvensional) melainkan juga kelembaban, tingkat kebersihan (sesuai dengan kelas ruangan yang dipersyaratkan), tekanan udara, dan sebagainya. Sistem tata udara yang digunakan tergantung dari jenis produk yang dibuat dan tingkat kelas ruang yang digunakan, misalnya ruang produksi streil dan sebagainya
penentuan kelas ditentukan oleh parameter-parameter sebagai berikut:
Beberapa hal baru yang diatur dalam CPOB Terkini (CPOB: 2006) dibanding dengan CPOB yang lama (2001) antara lain adalah :
·         Jumlah partikel pada kondisi at rest (kondisi statis) dan in operation (kondisi dinamis).
·          Batasan kontaminasi mikro (CFU= Colli Form Unit) untuk monitoring udara ruang bersih.
·          Preparasi dan pengisian aseptik berada diruang kelas A (IA) dengan latar belakang ruang kelas B (IB), sedangkan pada CPOB (2001) preparasi dan pengisian aseptik di ruang kelas A (IA) dengan latar belakang ruang kelas C (II).
·          Larangan penggunaan flter dari asbes.
·         Monitoring bioburden (frekuensi dan metode) pada produk, air dan lingkungan di kelas bersih.
2.      HVAC (Heating, Ventilating and Air Conditioning)
Salah satu sistem penunjang lain yaitu HVAC (Heating, Ventilating and Air Conditioning). Tujuan dari HVAC, yaitu:
  1. Mencegah kontaminasi silang
  2. Mengkondisikan fasilitas sesuai dengan yang dipersyaratkan dengan parameter : suhu, ruangan, perbedaan tekanan udara antar ruangan, arah aliran udara, jumlah pergantian udara, kelembaban relatif dan konsentrasi partikel.
  3. Memberikan kenyamanan dalam menjalankan tugas dan aktivitas.
Komponen HVAC
a.      Air handling unit (AHU) merupakan unit mesin pengolahan udara yang dirancang untuk mengkondisikan temperatur, kelembaban, tekanan udara ruangan, pengontrolan jumlah partikel dan pergantian udara didalam ruang produksi pada setiap jamnya. Udara tekan adalah udara yang dimampatkan dengan menggunakan kompresor udara. Udara yang dihasilkan kemudian di-treatment agar kotoran (misal partikel, water content / PDP dan oil carry over) bisa terkontrol dan tidak ikut terbawa ke dalam saluran penyaluran udara tekan yang menuju user point-nya sendiri.
b.      Chiller unit
Dari alat ini dihasilkan udara sejuk (7º)
c.       Cooling/heating Coil System
Berfuingsi mengubah kondisi temperatur udara sesuai dengan media yang dimasukan atau dilewatkan.
d.      Laminar Air Flow
Merupakan alat yang dilengkapi dengan HEPA (High Efficiency Particullar Air) yang dapat menghasilkan udara berarah tunggal dengan kualitas yang dipersyaratkan.
e.       Dust Collector
Berfungsi menyedot atau mengumpulkan partikel-partikel debu yang dihasilkan dalam suatu proses produksi sehingga tidak mengkontaminasi ruangan yang lain.

Air compress
Udara tekan adalah udara yang dimampatkan dengan menggunakan kompresor udara. Dalam proses produksi digunakan untuk kebutuhan pelayanan pneumatic system pada mesin produksi. Udara yang dihasilkan kemudian di treatment agar kotoran bisa terkontrol dan tidak ikut terbawa ke dalam saluran penyaluran udara tekan yang menuju user point –nya sendiri, misalnya untuk ruang steril dilakukan penyaringan kembali terhadap bakteri.
Proses tersedianya tenaga uap (steam)  yaitu karena adanya perubahan air yang dalam fase cair mejadi air dalam fase gas dengan tekanan tinggi melalui proses pemanasan menggunakan sebuah ketel uap/boiler. Alat yang digunakan untuk menghaislkan steam yaitu steam boiler yang memiliki kapsitas 3600 kg/h. Jenis steam yang digunakan ada 2 macam,yaitu:
1.      Plant steam, digunakan untuk pemanasan secara tidak langsung. Steam dialirkan melalui heating coil dan energi panasnya digunakan untuk pemanasan pada proses produksi.
2.      Clean steam, adalah steam bersih yang tidak mengandung partikel, biasanya digunakan untuk pemansan dengan kontak langsung misalnya digunakan pada alat autoclave, air yang digunakan sebagai feed water (air umpan) yaitu air murni (HPW).

3.      Pengolahan Air untuk Industri
Air baku sebagai kebutuhan produksi pabrik yang cukup vital menjadi tanggung jawab bagian teknik. Air baku yang di gunakan untuk keperluan pabrik di peroleh dari 3 sumur artesis dengan kedalaman 120 m dengan kapasitas 11 liter per detik. RAW Water ini dipompa ke permukaan dan ditampung dalam 3 storage tank dengan kapasitas 3 x @ 50 m3 yang di gunakan untuk proses produksi dan keperluan lainnya serta sebuah storage tank dengan kapasitas  120m3 yang di tanam didalam tanah yang digunakan untuk fasilitas hydrant. Kemudian Raw Water tersebut di proses untuk menghasilkan air dengan kualitas purified water  dan water for injection.
Preventive maintenance merupakan usaha untuk menjaga kondisi sarana produksi agar senantiasa dalam kondisi siap pakai. Pemeriksaan terhadap seluruh peralatan yang akan dipakai, dilakukan sesuai dengan SOP. Keberadaan fasilitas hydrant untuk penanganan kebakaran merupakan salah satu preventive maintenance yang merupaka salah satu persaratan CPOB.. Air hydrant diperiksa setiap hari oleh bagian teknik untuk mencegah kekosongan pada saat di butuhkan.
Air yang harus dipersiapkan sebagai air baku adalah air biasa, HPW dan WFI. Proses penyiapan HPW dimulai dengan pengambilan air yang berasal dari sumur artesis kemudian ditampung di tank penyimpanan yang secara berkelanjutan ditambahkan sodium hipokloride (NaOCl) untuk membunuh bakteri. Proses selanjutnya yaitu air yang mengandung klorin dilewatkan melalui multi media filter untuk menyaring partikel kasar dan zat organik. Setelah itu masuk ke karbon filter untuk menetralkan klorin dan setelah disaring dengan karbon filter dilakukan penyaringan dengan menggunakan filter 10 μm. Setelah proses penyaringan, air dilewatkan melalui kation bed untuk mengikat kation dengan menggunakan resin penukar kation dan anion bed untuk mengikat anion dengan menggunakan resin penukar anion dan dilewatkan ke mix bed (gabungan resin penukar kation dengan anion) untuk mencegah adanya kation dan anion yang terlewat saat dilewatkan melalui resin penukar ion sebelumnya. Setelah dilewatkan ke resin penukar ion, air kemudian disaring dengan menggunakan filter 1 μm, filter 0,5 μm kemudian disinari UV sebelum melalui filter 0,2 μm kemudian dipanaskan dengan menggunakan Plate Heat Exchanger (PHE) suhu 90-93o Csebelum dimasukkan ke dalam strorage tank. HPW yang ada di strorage tank kemudian didistribusikan ke bagian produksi yang dibutuhkan.
Untuk mendapatkan WFI, HPW yang ada di storage tank kemudian dialirkan menuju alat pembuatan WFI. HPW ini kemudian ditampung dalam double jacket tank (didinginkan dengan chiller) kemudian masuk side tank. Setelah itu, air yang telah didinginkan masuk ke Finn Aqua Destilator. Pada proses destilasi ini terdapat 5 kolom. Kolom pertama (139° C) digunakan untuk menguapkan HPW yang digunakan sebagai steam untuk menguapkan HPW yang ada di kolom 2 (130°C). setelah HPW yang ada di kolom 2 didestilasi, akan masuk ke kolom 3 (123°C), kolom 4 (118°C) dan kolom 5 (114° C) sudah diperoleh WFI dan dialirkan ke masing-masing user point. Penyimpanan WFI dalam tank harus dijaga agar senantiasa tersirkulasi dengan dijaga suhu 80-90° C.
Bagian ini juga memeriksa air yang digunakan untuk produksi seperti WFI secara harian. Pemeriksaan antara lain meliputi pemeriksaan konjutifitas, pH, kandungan klor dalam air. Pada setiap proses pengolahan air terdapat titik-titik pengambilan sampel. Kemudian dari sampel tersebut diperiksa menggunakan parameter yang ada sehingga air yang digunakan dalam proses produksi merupakan air yang memenuhi persyaratan. Jika ada masalah seperti pH air < 5 atau > 7 (syarat pH raw water 5-7) maka bagian QC akan mengeluarkan LPM (Laporan Penyimpanan Mutu) pada pihak produksi sementara waktu untuk dilakukan investigasi. Bagian QC akan bekerja sama dengan bagian teknis untuk memperbaiki alat agar menghasilkan air yang memenuhi persyaratan.